Pernikahan Adat Minang Lubuk Jantan

Setiap daerah di Minangkabau memiliki adat pernikahan yang sedikit banyak berbeda dari daerah lain. Pada hari kedua Ragam Pernikahan Nusantara 2007 tanggal 15 November, Pelaminan Minang Buchyar menampilkan prosesi pernikahan adat Minang Lubuk Jantan, Lintau - Kabupaten Tanah Datar di provinsi Sumatera Barat. Dalam prosesi pernikahan adat Minang khas Lubuk Jantan ini dipandu oleh Ibu Nusye sebagai pembawa acara dan disaksikan oleh wakil dari Bupati Tanah Datar.

Pelaminan khas Lubuk Jantan

Pelaminan khas minang ala Lubuk Jantan yang diperagakan oleh Pelaminan Minang Buchyar ini bertaburkan kain bersulamkan benang emas dengan warna yang mendominasi hitam, warna yang mewakili kalangan datuk. Singgasana pengantin di buat untuk bersila dan bersimpuh, dan bukan duduk di kursi yang melambangkan bahwa semua orang sederajat.

pelaminan minang pada ragam pernikahan nusantara
(Gambar 1.1 Pelaminan minang dengan setajuak pada acara Ragam Pernikahan Nusantara, Foto koleksi pribadi Pelaminan Minang Buchyar)

Terdapat sepasang setajuak yang ditaruh didepan pelaminan disebelah kiri dan kanan dan berjumlah sebelas yang menandakan asal keluarga pengantin dari kalangan bangsawan. Kaki setajuak adalah ketan kuning dan satu lagi berisi sirih, kapur dan pinang dibungkus saputangan bersulam benang emas. Juga terdapat sepasang jamba gadang yang di tutup saputangan bersulam emas. Salah satu jamba gadang tersebut berisi ketan kuning, ketan putih, ketam hitam dan paniaram. Sedangkan yang lain berisi nasi lengkap dengan lauk pauknya.

jamba gadang pada pernikahan adat minang
(Gambar 1.2 Jamba Gadang, Foto koleksi pribadi Pelaminan Minang Buchyar)

Prosesi Pernikahan Adat Minang

Dalam prosesi pernikahan adat minang khas Lubuk Jantan ini dikisahkan bahwa pengantin pria telah melakukan ijab Kabul pada hari jum’at setelah sholat Jum’at di Mesjid. Seperti umumnya pernikahan dengan cara Islam, anak daro saat itu belum bertemu dengan marapulai.

anak daro menuju pelaminan
(Gambar 1.3 Anak daro dengan baju pengantin khas Minangkabau, Foto adalah koleksi pribadi Pelaminan Minang Buchyar)

Setelah Ijab Kabul selesai di Mesjid, Marapulai diantar oleh orang tua dan keluarga mendatangi anak daro dirumahnya. Kedatangan marapulai dirumah anak daro ini disambut dengan tari gelombang, pepatah petitih dan tari persembahan yang semua menandakan bahwa marapulai diterima oleh keluarga anak daro.

Prosesi pernikahan adat Minang khas Lubuk Jantan ini kemudian dilanjutkan dengan mencuci kaki yang dilaksanakan oleh ibu anak daro, ritual ini menandakan bahwa marapulai diterima dengan iklas lahir batin oleh keluarga anak daro. Bila ada perselisihan dan pertengkaran antara kedua keluarga tersebut, selesai sampai di situ saja dan kini kedua keluarga sudah menyatu.

ibu anak daro mencuci kaki marapulai
(Gambar 1.4 Prosesi membasuh kaki pada pernikahan adat Minang, Foto koleksi pribadi Pelaminan Minang Buchyar)

Kemudian sang marapulai berjalan diatas kain putih yang langsung digulung karena tidak boleh diinjak oleh siapapun selain marapulai. Ritual ini menandakan mempelai membangun keluarga baru yang Insya allah tidak akan diganggu oleh siapapun. Kemudian kedua mempelai didudukan diatas pelaminan.

marapulai berjalan diatas kain sepra putih
(Gambar 1.5 Marapulai berjalan diatas kain sepra putih, Foto koleksi pribadi Pelaminan Minang Buchyar)

Setelah itu pasangan tersebut di suguhi makanan ketan berwarna warni yang berada dihadapan marapulai dan anak daro. Masing-masing memilih ketan tersebut. Ternyata sang marapulai memilih ketan hitam, yang memiliki arti perannya sebagai pelindung dan kepala keluarga sedangkan anak daro memilih ketan putih yang berarti bahwa sebelumnya anak daro belum pernah menikah. Dalam adat Minang tidak ada acara saling menyuapi, mempelai masing-masing mengambil sendiri hidangan pilihannya.

marapulai dan anak daro beserta keluarga duduk dipelaminan
(Gambar 1.6 Marapulai, anak daro beserta keluarga duduk di pelaminan, Foto koleksi pribadi Pelaminan Minang Buchyar)

Para undangan yang hadir disuguhi hiburan berupa tari piring dan dijamu dengan makanan khas Minangkabau. Dibagian samping kiri dan kanan pelaminan di gelar sepra (kain putih) tempat menjamu para undangan. Jamuan berupa kue dan makanan tradisional Minangkabau seperti lamang, tapai, lapek krucut, kolak diisikan pada piring-piring kecil. Dan terdapat cirano yang berisi makanan, merupakan persembahan bagi datuk desa lain.

tari piring menyambut marapulai
(Gambar 1.7 Tari gelombang untuk menghibur para undangan, Foto koleksi pribadi Pelaminan Minang Buchyar)

sepra dan hidangan buat undangan
(Gambar 1.8 Sepra dan hidangan buat undangan di pelaminan, Foto koleksi pribadi Pelaminan Minang Buchyar)

Seluruh prosesi dan pakaian serta pelaminan khas minang yang diadakan pada Ragam Pernikahan Nusantara 2007 ini diselenggarakan oleh Pelaminan Minang Buchyar. Ibu Atice juga berkenan meminjamkan beberapa koleksi pribadi beliau untuk melengkapi keaslian pernikahan adat minang yang berusaha ditunjukan pada acara kali ini.

Beberapa koleksi pribadi beliau yang dipakai pada prosesi pernikahan adat minang ini adalah sebuah keris pusaka minang untuk dikenakan marapulai, kain untuk ikat pinggang datuk yang dikenakan marapulai, tongkat khas minang yang di gunakan kedua ayah mempelai, hiasan kepala marapulai dan beberapa kalung tua untuk dikenakan pendamping dan ibu mempelai.

ibu atice berpose bersama para peraga
(Gambar 1.9 Para peraga berpose bersama setelah menyelesaikan prosesi pernikahan adat minang, Foto koleksi pribadi Pelaminan Minang Buchyar)

Artikel ini merupakan ringkasan dari tulisan kami "Prosesi Pernikahan Adat Minang - Lubuk Jantan, Tanah Datar" di Blogspot pada hari kamis tanggal 15 September 2007

Truly Minangkabau Culture, Art and Style