Daftar Artikel tentang Minangkabau

DIBALIK ISTANA HATTA DI BUKIT TINGGI
Ketidaktahuan banyak orang, termasuk masyarakat Sumatera Barat sendiri, tentang peran Bung Hatta dan keberadaan Istana Bung Hatta di Bukit Tinggi, bisa dimengerti dan dimaklumi, karena sangat jarang buku-buku sejarah Indonesia menjelaskan hal ini.

Banyak hal-hal penting dalam perjuangan bangsa ini yang sengaja dikaburkan bahkan dihilangkan untuk kepentingan rezim penguasa (Orde Baru). Termasuk peran penting Bung Hatta di Sumatera

[baca lebih lanjut]

IMAM BONJOL, DIKENANG DAN DIGUGAT
Selama 62 tahun Indonesia merdeka, nama Tuanku Imam Bonjol hadir di ruang publik bangsa sebagai nama jalan, nama stadion, nama universitas, bahkan di lembaran Rp 5.000 keluaran Bank Indonesia 6 November 2001.

Namun, baru-baru ini muncul petisi, menggugat gelar kepahlawanannya. Tuanku Imam Bonjol dituduh melanggar HAM karena pasukan Paderi menginvasi Tanah Batak (1816-1833) yang menewaskan "jutaan" orang didaerah itu.

[baca lebih lanjut]

MENGENANG 100 TAHUN BUNG HATTA
Mengenang 100 tahun ko-proklamator kemerdekaan kita, Mohammad Hatta, 12 Agustus 1902-12 Agustus 2002, agaknya layak dilakukan seperti meninjau kembali hampir seluruh proses terbentuknya bangsa kita. Meninjau kembali berarti menilai ulang masa 100 tahun itu dengan pikiran warga negara merdeka.

Berbeda dari kebanyakan rakyat jajahan, Hatta tidak terperangkap dalam hanya menolak atau menerima cita-cita itu. Sebaliknya, ia dengan sangat bebas memilih dari kehidupan sekitarnya apa yang dianggap perlu bagi diri sendiri dan masyarakatnya. Sikap bebas ini, khususnya rasa girangnya menjelajahi hidup, selama ini dikaburkan, seolah-olah itu merupakan cacat, diganti dengan gambaran kesalehan Hatta yang hampir menjadi karikatur. Sesungguhnya masa kecil Hatta merupakan masa kemerdekaan bagi dirinya, kegirangan menjelajah kehidupan.

[baca lebih lanjut]

MENGENANG KEJAYAAN
PANTAI BARAT SUMATERA

Pada kurun waktu 1819-1906, dunia maritim pantai barat Sumatera sangat dinamis. Bahkan, menurut Rusli Amran (1988), pada abad 19 salah satu kota di pantai barat Sumatera, yaitu Padang, adalah kota metropolis terbesar di seluruh Pulau Sumatera

Selain karena perdagangan internasional, pantai barat Sumatera juga menjadi kokoh karena dukungan kawasan sekitarnya. Para pedagang di pantai barat Sumatera kerap menjalin kerja sama dengan para pedagang lokal dari daerah pedalaman, dengan kawasan di sepanjang pantai (antardaerah pantai), serta dengan pulau-pulau lepas pantai.

[baca lebih lanjut]

MINANGKABAU DALAM PROSES PEMBANGUNAN SEBUAH BANGSA
Budaya politik Minangkabau bukan saja mendistribusikan kekuasaan tersebut pada mufakat kerapatan adat nagari dan suku tetapi sama sekali tidak berkeberatan dengan kemajemukan dan nyaman-nyaman saja dengan perbedaan pendapat.  Sangatlah bertolak belakang dengan budaya politik Jawa yang berkisar pada konsep kekuasaan yang terpusat di ibukota (kultur politik otoritarian dan sentralistik).

Dalam visi tradisional Jawa, Jawa-lah yang merupakan pusat dunia. Selain Jawa adalah mancanegara dan tanah seberang, yang bukan saja dipenduduki oleh manusia kelas dua tetapi juga berperadaban rendah.

[baca lebih lanjut]

PENULISAN ULANG SEJARAH MINANGKABAU
Pada pertengahan tahun 1961, semangat kebangsaan dan kepahlawanan orang-orang Minangkabau telah hancur. Pemberontakan yang dilancarkan oleh pendukung Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia dan telah tiga tahun berjuang menentang pemerintahan pusat yang makin lama makin condong dan menunjukan keberpihakan pada budaya Jawa yang otoriter dan komunis, akhirnya dapat dikalahkan.

Pada tahun 1963, datang lagi sebuah pukulan terhadap orang-orang Minangkabau yang telah kehabisan nafas. Dalam sebuah buku yang ajaib dan sangat aneh yaitu “Tuanku Rao: Teror Agama Islam Hambali di Tanah Batak (1816-1833)”. Seorang penulis Mandailing bernama Mangaradja Onggang Parlindungan mentertawakan dan mengejek ...

[baca lebih lanjut]

SUMATERA BARAT
PEMBERONTAK YANG TAKLUK

Sumatera Barat adalah daerah luar Jawa yang paling banyak menyumbang tokoh di panggung politik nasional, sejak era kolonial sampai era Soeharto. Tokoh-tokoh Sumatera Barat itu juga mewakili semua spektrum ideologi politik, mulai dari Tan Malaka hingga Hamka. Karena itu, Sumatera Barat memiliki tempat tersendiri dalam sejarah politik Indonesia.

Masyarakat Minang yang tinggal di Sumatera Barat melihat pemimpin hanyalah orang yang ”ditinggikan seranting dan didahulukan selangkah”, bukanlah penguasa tunggal yang mengambil kata putus.

[baca lebih lanjut]

RUNTUHNYA KEBUDAYAAN MINANGKABAU
Etnis Minangkabau sudah lama mengalami kebangkrutan budaya, tidak saja pasca-Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (1958-1961), tetapi juga semasa Orde Baru.

Dampak negatifnya sudah terasa seperti hasil Ujian Akhir Nasional (UAN) tahun 2003, di mana siswa di Sumatera Barat hanya berada di atas hasil siswa Papua. Tercatat pula sejumlah balita yang malnutrisi di daerah ini karena ibu-ibu enggan menyusui. Belum lagi 43 dari 45 orang anggota DPRD Sumatera Barat yang dipidana karena terkait kasus korupsi.

[baca lebih lanjut]

VITALNYA PARTISIPASI POLITIK WANITA MINANG
Wanita sebagai pemimpin suatu nagari telah lama menjadi sorotan di Sumatera Barat. Sebenarnya wanita Minang sejak dahulu telah menjalani peran politk dan sosial budaya.

Penelitian Dr. Kern mengungkapkan bahwa pada tahun 1930, ada 1.908 wanita Minangkabau yang menganggap dirinya mamak. Buktinya, seperti yang dilakukan Gadih Reno Ranti. Karena mamak, ayah, dan saudara laki-lakinya yang lain tidak dapat melakukan tugas sebagai pemimpin, maka ia mengambil alih tugas kepemimpinan politik tersebut. Ia kemudian memimpin Kerajaan Pagaruyung yang telah hancur karena serangan Belanda. Dengan contoh ini, artinya perempuan memang bisa menjadi pimpinan politik yang efektif di Minangkabau.

[baca lebih lanjut]

Truly Minangkabau Culture, Art and Style