Pasukan Gajah Minangkabau

Pasukan gajah telah dipakai dalam pertempuran di Minangkabau. Pada tahun 1663, Groenewegen menjadi saksi sejarah tentang penggunaan pasukan gajah ini, saat Ia sedang aktif menjalankan lobi terhadap orang Minang untuk kepentingan perdagangan Belanda.

Pada saat itu sebuah kota kecil bernama Bayang berhasil mematahkan serangan yang dilakukan rakyat kota Padang dan Sungai Pagu dengan korban 70 orang dari Padang termasuk Rajo Besar dan mereka kehilangan 2 ekor gajah dalam pertempuran itu. Peperangan waktu itu banyak terjadi karena berebut pengaruh dibidang ekonomi diantara pepimpin lokal setelah pudarnya kekuasaan kerajaan Aceh di Sumatera Barat.

Kota Bayang adalah kota kecil diantara Kota Padang dan Painan serta agak sedikit ke selatan dari Tarusan. Kota Bayang selain sangat produktif dalam menghasilkan lada dan emas yang sangat dibutuhkan VOC yang hampir bangkrut, juga sangat rewel dan aktif menyerang kepentingan Belanda. Ada tiga buah kota yang saat itu sering menentang Belanda, yaitu Kota Bayang, Kota Pauh dan Tiku.

Rakyat kota Bayang ini memiliki rasa persatuan yang tinggi, walaupun tidak banyak jumlah penduduknya tetapi mereka sangat kompak dalam mempertahankan kepentingan bersama, berbeda dengan kota-kota dipesisir Sumatera Barat yang banyak berjuang karena kepentingan pribadi maupun mempergunakan kesempatan untuk memancing di air keruh.

Salido adalah satu-satunya tempat yang aman buat Belanda untuk berdagang saat itu. Pertempuran kecil sudah banyak terjadi didaerah sekitar Kota Bayang yang akhirnya sampai ke Kota Bayang. Groenewegen menduga ini adalah upaya mencari alasan untuk menyerang Salido sebab bila Sungai Pagu ikut terjun kedalam pertempuran ini maka Rakyat Salido juga akan melibatkan diri dengan senang hati karena mereka umumnya memiliki banyak hutang dengan Belanda.

Pada tahun 1678, kota Bayang menyerang Salido dan akhirnya berhasil dipatahkan Belanda. Karena dianggap berbahaya makan tahun 1682, Kota Bayang diserang oleh Belanda dan diratakan dengan tanah. Penghulu kota Bayang yang berjumlah 16 orang digantikan Belanda dengan seorang panglima yang bernama Raja Pahlawan dan dibantu dengan 12 penghulu baru. Rakyat Bayang yang ingin kembali menetap dikota yang baru dibangun Belanda harus membayar 400 ringgit. Penduduk barupun dari Tarusan, Kinari , Koto Anau dan Muara Panas didatangkan Belanda untuk mendiami kota Bayang yang baru.

Pada tahun 1703, Raja Pahlawan melarikan diri kerena ketahuan bersekongkol dengan dua orang yang mengaku sebagai anak Raja Minangkabau untuk melawan Belanda. Setelah ini semua penghulu kota Bayang yang lama, menyerang dan menghancurkan Salido hingga Belanda mengungsi ke pulau Cingkuk. Rakyat kota Bayang bergabung dengan Pauh untuk menyerang Padang dan Tarusan dan tahun 1706 mereka menyerbu Salido lagi. Raja Dihilir, seorang pemimpin Bayang yang diangkat Belanda beserta pengikutnya diusir oleh rakyat Bayang dan akhirnya mengungsi ke Padang.

Pada tahun 1711, kesepakatan tercapai antara kota Bayang dan Belanda. Sejak saat itu kota Bayang diperintah 3 kepala dan 12 penghulu.

Reference:
Rusli Amrin, Sumatera Barat hingga Plakat Panjang, Perang Bayang, Penerbit Sinar Harapan.

 

Truly Minangkabau Culture, Art and Style